Senin, 21 Januari 2013

Contoh Nilai dan Norma yang Berfungsi Baik

Norma yang berfungsi baik
Contoh:
1.      Membayar pajak tepat waktu
Tanggapan:
Membayar pajak tepat waktu termasuk dalam norma yang berfungsi baik karena aturan yang berlaku memang demikian. Dengan membayar pajak tepat waktu, kita turut menyumbangkan dana kepada negara guna pembangunan negara.
Jika pajak dibayar terlambat, maka pembangunan negara pun akan terlambat.

2.      Tidak memakai perhiasan dan pakaian yang mencolok ketika menghadiri suasana berkabung.
Tanggapan:
Tidak memakai sesuatu yang mencolok ketika menghadiri suasana berkabung termasuk salah satu norma kesopanan yang harus kita terapkan sehari-hari dalam hidup kita. Tidak memakai pakaian dan perhiasan yang mencolok artinya kita menghormati perasaan orang lain yang sedang berkabung atau sedih. Jika saat itu kita memakai sesuatu yang mencolok, seperti misalnya gelang emas yang banyak, baju merah berkilauan, dan sebagainya, maka kita akan dianggap sebagai orang yang tidak sopan. Karena menyimpang dari norma yang telah berlaku dari kebiasaan dalam masyarakat. Kita dianggap tidak menghargai atau menghormati perasaan orang lain yang sedang berkabung. Sanksi dari pelanggaran norma ini adalah mendapat celaan dari masyarakat sekitar.


3.      Membuang sampah pada tempatnya.
Tanggapan:
Bila kita telah mengkonsumsi suatu barang, sudah kewajiban kita membuang bungkus atau sampah pada tempatnya. Bayangkan jika setiap satu orang membuang satu sampah tidak pada tempatnya dalam satu hari. Maka dalam satu minggu saja satu kota sudah menjadi kotor dan kumuh. Itu baru satu sampah setiap orang. Maka norma disini mengatur tentang kewajiban kita membuang sampah pada tempatnya. Sanksi dari pelanggaran ini bermacam-macam. Di luar negeri, orang yang membuang sampah sembarangan akan dikenai denda. Lalu Islam pun melarang membuang sampah sembarangan dan orang yang melanggar akan mendapat dosa, sesuai dengan aturan yang ada dalam kitab.                            
Tukang sapu jalanan tidak bisa menjadi alasan untuk membuang sampah sembarangan. Karena sampah-sampah yang menumpuk di tempat yang tidak semestinya nantinya akan menjadi masalah.

4.      Tertib lalu lintas.
Tanggapan:
            Setiap orang harus menaati peraturan lalu lintas. Begitu pentingnya ketertiban berlalu lintas, sampai polisi lalu lintas pun diperlukan untuk turut mengatur ini. Berhenti saat lampu merah, jalan saat lampu hijau, parkir di area boleh parkir, memakai helm, dan sebagainya. Lalu lintas yang tidak tertib akan kacau dan menimbulkan korban yang tak terhitung jumlahnya. Tanpa adanya aturan lalu lintas, orang akan seenaknya mengebut di jalanan, di pertigaan atau perempatan, akan banyak korban jiwa, koran-koran dan media berita akan penuh dengan berita kecelakaan, berkendara tidak aman, dan sebagainya. Baik dari masyarakat yang naik angkutan umum, sampai masyarakat yang berkendara sendiri tidak akan merasa nyaman. Sanksi dari pelanggaran ini bergantung pada seburuk apa aturan yang sudah kita langgar.
            Oleh karena itu, setiap dari kita harus tertib dalam berlalu lintas, yang artinya kita turut mendukung pencegahan terjadinya kecelakaan, sehingga berkendara pun nyaman, dan tidak perlu khawatir. Dengan begitu norma akan berfungsi dengan baik, sebagai alat yang membatasi perilaku kita.

5.      Meminta maaf ketika berbuat salah atau membuat kesal orang lain.
Tanggapan:
            Saat dimana kita berbuat salah atau terjadi kesalah pahaman dengan orang lain, hendaknya kita meminta maaf kepada yang bersangkutan. Karena kesalah pahaman bisa saja menjadi masalah yang semakin rumit dimasa depannya. Meminta maaf berarti kita mengakui kesalahan yang telah kita perbuat pada orang tersebut yang otomatis berarti kita menghargai orang tersebut. Sanksi yang mengikuti norma yang mengatur hal ini yaitu mendapat cemooh atau kritik dari masyarakat sekitar.








Nilai yang tidak / kurang berfungsi baik
Contoh:
1.      Ketika seorang siswa menjawab pertanyaan, jawaban tersebut salah, dan kita menyalahkannya.
Tanggapan:
          Jika seorang siswa dapat menjawab suatu pertanyaan, ia benar secara logika. Apabila ia keliru dalam menjawab, kita katakan salah. Kita tidak bisa mengatakan siswa itu buruk karena jawabanya salah. Karena siswa tersebut sudah mencoba menjawab, ada baiknya kita menghargai pendapat siswa tersebut. Buruk adalah nilai moral sehingga bukan pada tempatnya kita mengatakan demikian.


2.      Tidak disiplin waktu.
Tanggapan:
            Tidak disiplin waktu merugikan diri sendiri karena pembagian waktu menjadi kacau. Misalnya datang terlambat ke sekolah, waktu belajar di sekolah pun akan kacau. Yang semestinya kita mulai belajar pukul 07.00 menjadi 07.30, misalnya.

3.      Mencontek saat ulangan.
Tanggapan:
            Mencontek termasuk dalam nilai yang tidak berfungsi baik karena itu artinya kita tidak percaya diri, atau tidak belajar. Hal-hal yang semacam ini akan merugikan diri kita sendiri di masa depannya. Kita jadi lebih sering mengandalkan kemampuan orang lain, kemampuan kita sendiri jadi tidak berkembang. Selain merugikan diri sendiri, juga merugikan orang lain yang kita mintai contekan. Orang tersebut bisa saja merasa terganggu.

4.      Mengerjakan PR di sekolah.
Tanggapan:
            Pekerjaan Rumah, tentu saja seharusnya dikerjakan di rumah. Tugas yang diberikan oleh guru hendaknya dikerjakan dengan sungguh-sungguh, sesuai apa yang di perintahkan. Menerapkan disiplin waktu memudahkan kita untuk dapat mengerjakan PR di rumah, karena tujuan dari mengerjakan PR itu sendiri adalah agar kita tidak mudah melupakan apa yang sudah di ajarkan oleh bapak/ibu guru, agar kita dapat mengerti atau semakin paham tentang materi yang di ajarkan.

5.      Sombong.
Tanggapan:
            Berperilaku dan mempunyai sifat sombong akan mudah sekali di jauhi orang. Orang yang mempunyai sifat sombong cenderung egois dan tak mau menyamakan dirinya dengan orang lain. Menganggap orang lain lebih rendah dari dirinya. Oleh karena itu, sombong merupakan nilai yang tidak baik, yang tidak perlu di terapkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar